Belagunya Kader Dakwah

Timbul keresahan di hati saya setelah mengamati beberapa fenomena yang terjadi di kalangan para aktivis dakwah kampus. Sesungguhnya, mereka terus bekerja dan bekerja untuk kelangsungan risalah dakwah dengan tetap menjaga manhajnya, profesional, dan kontinyu. Sehingga dakwah ini akan semakin menerangi, diminati dan dirasakan oleh banyak orang.

Namun kini, hal tersebut menjadi sesuatu yang langka menurut saya menemuinya. Yang ada ialah agenda-agenda dakwah menjadi seadanya, terperangkap masalah-masalah pribadi, dan sebagainya. Hal itu hanya menghabiskan energi yang akhirnya sia-sia. Bisa jadi, ini kasuistik di sekitar penulis, tapi bisa jadi juga terjadi di tempat yang lain.

***

Kader dakwah belagu.

Agenda-agenda tarbawi dihadiri hanya sebisa saja. Banyak alasan ini dan itu. Padahal, di sanalah menjadi bagian sarana utama “mengisi” diri. Buku-buku referensi dakwah pun enggan untuk disentuh, apalagi dibaca. Alasannya berat! Ah, belagu!Lantas bagaimana mungkin bisa menjalankan agenda-agenda dakwah secara “benar” sedangkan tujuan, konsep, ide tentang dakwah itu sendiri belum jelas di hati dan kepala para pengusungnya. Benar, kenyataannya yang ada hanya bergerak berdasarkan perasaan yang tidak jelas kemana tujuannya. Para kader dakwah pun akhirnya hanya menjadi kader organisasi dimana ia berwadah. Bekerja hanya sebatas tuntutan program kerja.

Kader dakwah belagu.

Ketika ada hasil keputusan syura’, bukan ditanggapi dengan “Kami dengarkan dan kami patuhi,” tapi yang ada ialah “Kami dengarkan dan buat apa kami patuhi”. Seolah ia orang yang paling benar. Belagu! Berlagak sokkritis, tapi tidak argumentatif. Banyak bicara, tapi tidak berisi. Ngomong-ngemeng tapi tidak ada dasar. Kritis bukan tidak boleh, tapi tetap pada batasnya. Jangan sampai malah menimbulkan keretakan dalam beramal jama’i. Lagi-lagi hanya mengandalkan perasaan, ego pribadi selalu jadi benteng pertahanan. Ia seolah-olah lupa bahwa cara syura’ adalah cara terbaik dalam mengambil keputusan. Buta hati melihat siapa mereka;yang memutuskan. baik secara kuantitas, kapasitas keilmuan, maupun kekuatan ruhiyah, keikhlasan, dan totalitas perjuangannya yang bisa jadi kita sangat jauh dibawah mereka.

Maka seharusnya: Malulah!

Kader dakwah belagu.

Ketika diberi amanah, dijalankan semaunya dan seadanya. Pun, banyak menemukan mereka yang milah milih amanah. Dicari hanya yang sesuai kepentingan pribadi. Mengambil hanya yang mudah-mudahnya saja. Ada suatu amanah dakwah, yang seharusnya ia kerjakan, tapi akhirnya menolak dengan segala alasan yang dibuat. Ketika yang lain mengambilnya dengan gampangnya mengecapnya dengan prasangka negatif:gila amanah, kejar posisi, ingin populer! Naudzbillah!

Kader dakwah belagu.

Giliran kritik mengkritik: nomer satu. Saat diajak kongkrit, selalu terbelakang. Setiap syura’ malah telat. Dan tanpa merasa berdosa hanya bisa banyak berkata “Afwan”. Cek mutabaah amalan yaumiah, ternyata mirip papan catur. Cek masjid sekitar tempat ia tinggal, tidak pernah nongol, juga shalat subuh jamaah.

Kader dakwah belagu.

Saat ada kemungkaran yang meledak, ia hanya mengandalkan sifat reaktif. Lah, kemana saja selama ini? Sudahkah kita berusaha maksimal menggunakan sarana-sarana untuk mencegahnya? Maka yang terlihat hanyalah ia melakukan penghakiman dimana-mana. Ia lupa bahwa gelap itu tidak pernah salah. Yang salah adalah tidak adanya cahaya, sehingga gelap itu datang.

Kader dakwah belagu.

Menggembar gemborkan amal jama’i. Sedangkan ia sendiri membatasi kerja-kerjanya hanya sebatas organisasi atau lembaganya. Padahal kerja-kerja seharusnya ialah kerja yang sifatnya fungsionalitas, tidak berbatas hanya sama organisasi atau lembaga.

Kader dakwah belagu.

Ketika diajak diskusi tentang Islam ataupun tentang dakwahnya maka ia menjadi orang yang malas. Jelas saja karena kini yang ada di kepala mungkin kebanyakan mereka hanya soal lawan jenis: ikhwan dan akhwat. Ada kajian keilmuan Islam juga berat hadir. Wajar kalau diajak bergerak susah…

***

Penulis bisa jadi juga termasuk para kader belagu itu. Sehingga ditulis pun bisa menjadi sarana muhasabah pribadi. Agenda-agenda dakwah akan berjalan dengan baik manakala setiap dari mereka para pengusungnya memiliki semangat, keyakinan terhadap dakwahnya, dan kerelaannya menanggung pengorbanan yang menjadi konsekuensinya. Tidak bisa berjalan jika di isi oleh kader-kader manja, slenge’an. Ditambah semangat untuk terus menambah menggali pemahaman.

Jangan sampai kita hanya menjadi penghambat dakwah. Bahkan lebih kasar hanya menjadi sampah saja yang menyebarkan bau tidak sedap dalam dakwah. Sebaliknya harus menjadi para penggerak. Yang menyalakan cahaya, menghilangkan kegelapan.

Sumber : http://www.fimadani.com/kader-dakwah-belagu/

Mau Dirikan Khilafah? Mulailah Dari Sekarang

Mau Dirikan Khilafah? Mulailah Dari Sekarang

Salah satu yang membuat kita berdecak kagum kepada sejarah umat Islam dalam masa-masa khilafah Islamiyah adalah persembahan yang diberikan tiap khilafah itu kepada umat manusia.

Salah satu persembahan yang utama adalah jaminan pendidikan dan kesehatan buat semua orang, bukan hanya umat Islam, tetapi semua pemeluk agama.

Perguruan Tinggi di dunia Islam sejak dulu tidak pernah memungut bayaran dari para mahasiswanya. Sebaliknya, semua mahasiswa malah mendapatkan gaji dan tunjangan dari kampusnya. Baik kampus itu milik negara atau pun milik swasta.

Maka tidak heran kalau dunia pendidikan saat itu sangat maju dan berkualitas. Sebab semua orang yang ingin belajar, mendapatkan bantuan dari semua pihak. Bukan saja dari negara, tapi dari semua elemen masyarakat.

Dan gratisnya pendidikan adalah ciri sebuah khilafah Islamiyah. Kalau hari ini ada keinginan untuk mengembalikan lagi khilafah, rasanya sangat tepat kalau ciri-ciri itu kita mulai lebih dahulu. Agar orang tahu, bahwa mendirikan khilafah itu memang ada manfaatnya yang langsung bisa dirasakan, bukan saja oleh umat Islam, tetapi juga orang pemeluk agama lain.

Sayangnya, nyaris semua kampanye untuk kembali kepada khilafah saat ini, berhenti hanya sebagai slogan kosong tanpa makna. Kalau cuma bicara doang, semua orang juga bisa.

Tapi yang dibutuhkan adalah bukti nyata, amal, kerja, prestasi, hasil, manfaat yang real. Bukan hanya janji-janji kosong bak calon anggota legislatif. Kalau nanti saya terpilih, saya akan begini dan begitu.

Kalau nanti khilafah sudah berdiri, nanti kita akan begini dan begitu. Kalau ada khilafah nanti kita akan makmur. Kalau nanti ada khilafah … kalau nanti ada khilafah . . . . Hmm menurut saya itu malah terbalik.

Seharusnya jangan pakai slogan ‘kalau nanti’. Semua orang juga bisa bicara bila modalnya cuma ‘kalau nanti’. Hitler, Musolini, Lenin dan Stalin juga suka bicara ‘kalau nanti’.

Ciptakan dulu kemakmuran, setidaknya di kalangan yang terbatas, sehingga semua orang tahu dan melihat langsung buktinya. Baru nanti semua orang akan melirik dan melihat langsung. Kemudian orang akan mengambil kesimpulan.

Ooo, mereka itu makmur karena mereka menerapkan syariat Islam, yang kalau semakin besar, akan menjadi khilafah. Sebab masyarakat semakin cerdas, mereka tidak suka janji dan mimpi, mereka lebih paham bukti yang hakiki.

Saudara-saudara saya yang sangat getol mengkampanyekan tegaknya khilafah itu rupanya bingung harus mulai dari mana perjuangan mereka itu. Persis orang yang bingung, mana duluan, telur atau ayam.

Padahal contoh dari Nabi SAW itu jelas sekali. Tidaklah Madinah itu didirikan, kecuali kalau sudah ada muhajirin dan anshar. Artinya, tidak mungkin khilafah Islam itu berdiri, kalau tidak ada umatnya.

Loh, 1,5 milyar ini apa bukan umat?

Benar, mereka itu umat. Tapi umat yang tidak berhak memiliki khilafah. Karena mereka umumnya tidak kenal agama Islam yang dipeluknya sejak lahir. Yang mereka kenal sekedar ritual-ritual tanpa makna. Karena faktor keturunan saja mereka sekarang secara formal beragama Islam.

Benar, mereka itu umat. Tapi mereka tidak bersatu seperti 15 juta orang yahudi di seluruh dunia. Mereka lebih suka hidup berkelompok-kelompok sambil asyik saling mengejek dan menjelekkan satu sama lain, sembari membanggakan kelompok mereka sendiri.

Setiap partai membanggakan apa yang mereka punya. Setiap jamaah merasa paling unggul dengan prestasinya. Setidak ormas merasa paling berjasa dengan karyanya. Setiap gerakan merasa paling populer dengan nama besarnya. Setiap murid merasa paling benar dengan fatwa ustadznya.

Benar, mereka umat. tapi mereka juga belum lagi menerapkan syariah dalam pribadi dan keluarga mereka. Bahkan mereka pun belum lagi mengerti detail-detail syariah. Karena mereka tidak pernah belajar ilmu syariah secara serius. Latar belakang pendidikan mereka tidak lain adalah ilmu-ilmu milik orang kafir yang sekuler.

Ilmu-ilmu keislaman yang mereka punya sangat terbatas, dangkal, dan sebisa-bisanya saja. Tidak mengambil dari sumber ilmu itu sendiri secara matang dan serius.

Benar, mereka umat. Tapi apa yang mereka makan, tidak tahu halal haramnya. Apa yang mereka minum, juga tidak tahu halal haramnya. Apa yang mereka pakai, juga tidak tahu halal haramnya. Apa yang mereka dapatkan dari rejeki, juga tidak pasti halal haramnya.

Benar, mereka umat. Tapi mereka tidak tahu siapa yang jadi mahram dan siapa yang bukan. Mereka tidak tahu cara bagi waris yang diajarkan Rasulullah SAW. Mereka tidak tahu bahwa mengucapkan talak kepada istri walau cuma main-main ternyata jatuh juga. Mereka tidak tahu kalau wanita yang ditalak suaminya itu ada masa iddahnya dan tidak boleh keluar dari rumah suaminya.

Benar, mereka umat. Tapi mereka tidak tahu bahwa macet di jalanan kota Jakarta itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menjama` shalat. Dan bahwa menjama` shalat itu tidak boleh dilakukan setelah sampai di rumah, karena sudah bukan musafir lagi.

Dalam keadaan yang sangat awam dan parah dalam keawaman itu, rasanya masih mimpi kalau kita bicara tentang tegaknya khilafah islam. Sebab keawaman-keawaman seperti itu tidak pernah terjadi di masa tegaknya khilafah Islam selama 14 abad ini.

Dan tidaklah khilafah Turki Utsmani runtuh di tahun 1924 yang lalu, kecuali karena umat ini semakin awam dan terlalu awam dengan syariah Islam. Maka kalau kita bercita-cita ingin mengembalikan lagi khilafah Islamiyah seperti itu, langkah pertama yang harus ditempuh adalah kita wajib menghidupkan kembali ilmu-ilmu keislaman, sehingga seluruh lapisan umat yang 1,5 milyar ini MELEK syariah.

Bukan cuma melek, tapi sampai paham, mengerti, nyambung, tahu, ngeh, dan ngelotok. Kemudian mereka menerapkan syariah itu, minimal mulai dari diri sendiri, kemudian di dalam lingkungan terdekat, yaitu keluarga dan tetangga. Dan seterusnya sampai masyarakat, negera dan dunia.

Jangan sampai ada orang yang teriak-teriak mengajak untuk mendirikan khilafah, tetapi dirinya sendiri malah tidak mengerti detail syariah Islam. Kampanye menegakkan syariah, tetapi justru si juru kampanye malah tidak bisa berbahasa Arab. Lalu bagaimana mau merujuk merujuk kepada turats (warisan) ilmu-ilmu keislaman yang asli, kalau tidak bisa bahasa Arab. Apakah kita akan membangun syariah Islam pakai literatur dari Barat berbahasa Inggris? Bukankah justru malah jatuh ke pangkuan sekuler dan liberal?

Jangan sampai dia malah orang yang masih belajar mengeja huruf Al-Quran, atau baca Quran tidak fasih yang hanya bikin kuping jadi kesemutan.

Katanya mau mendirikan khilafah, lha wong baca Quran aja termehek-mehek gitu kok? Apalagi baca kitab turats para ulama, alih-alih bisa paham, paling banter dituduh salah cetak.

Kenapa begitu? Karena bicara khilafah artinya bicara berjuta bahkan bermilyar pekerjaan besar.

Dan semua itu harus sudah dimulai sejak sekarang, bukan menunggu kalau khilafah sudah berdiri, baru mau kerja. Salah satu pekerjaan rumah itu ya belajar dulu deh baca quran yang fasih, tanpa salah, dan enak didengar. Kalau itu saja masih belum dikerjakan, terus mimpi bikin khilafah, waduh . . .

Pekerjaan lainnya ?

Ya, itu tadi. Gimana caranya kita bisa punya kampus dan rumah sakit yang gratis. Sebab di masa khilafah dulu, semua kampus dan rumah sakit memang gratis, baik yang negeri atau yang swasta.

Dan untuk punya kampus atau rumah sakit yang gratis, tentu tidak harus menunggu khilafah berdiri dulu. Sebaliknya, justru keberadaan kampus dan rumah sakit gratis itulah yang akan membuat orang-orang tertarik ikut mendirikan khilafah.

Karena memang ada manfaat yang nyata dan langsung bisa dirasakan umat. Bukan sekedar kampanye dan omong kosong.

Meja Telepon Ibu : Sebuah Saksi Perjalanan Meraih Mimpi Mahasiswi Teknik Nuklir UGM

Meja Telepon Ibu

Siti Horiah 
Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012

 

Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.
 
Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.
 
Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.
 
***
Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.
 
“ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.
 
Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.
 
Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.
 
Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.
 
Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.
 
Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.
 
“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.
 
Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.
 
Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.
 
Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.
 
Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.
 
Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.
 
Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.
 
“ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.
 
***
 
Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.
 
Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.
 
***
 
Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.
 
Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.
 
***
 
“Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.
 
Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.
 
***
 
Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.
 
“kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.
 
Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.
 
Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.
 
Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.
 
Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.
 
***
 
Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.
 
“Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia
 
Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
 
Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.
 
Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.
 
***
 
Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.
 
“Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis
Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.
 
***
 
Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.
 
Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.
 
 
sumber:
 

74 Penghargaan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan

 Jumlah penghargaan yang diterima Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bertambah lagi. Setelah menerima penghargaan ke-71 dalam tempo 51 bulan memimpin Provinsi Jawa Barat, Heryawan menerima tiga penghargaan lagi, Jum’at (5/10) kemarin. Berikut ini daftar 74 penghargaan yang diterima Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan:

TAHUN 2008

1. (1) Penghargaan Pemeringkatan e-Government Indonesia Tingkat Provinsi [OPD Pengelola : Diskominfo Provinsi Jawa Barat]. Penghargaan diperoleh dari Depkominfo, atas prestasi dalam Provinsi Jawa Barat menduduki tiga besar Pemeringkatan E-Government Indonesia (PeGI).

2. (2) Penghargaan e-Government Award kategori Provinsi [OPD Pengelola : Diskominfo Provinsi Jawa Barat] Penghargaan diperoleh dari Warta EkonomiI, atas prestasi dalam bidang penyelenggaraan e-government tingkat Provinsi

3. (3) Penghargaan Adiupaya Puritama, Bali 31 Oktober 2008. [OPD Pengelola : Dinas Pemukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat]. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat RI, Muhammad Yusuf Asy’ari di Bali. Atas prestasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam bidang pembinaan penyelenggaraan pengembangan perumahan dan pemukiman kategori Pemerintah Kabupaten Tahun 2008.

4. (4) Penghargaan Provinsi Kinerja Terbaik Peringkat Pertama dalam Bidang Jasa Konstruksi, Jakarta 28 Nopember 2008. [OPD Pengelola : Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat]. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto kepada Gubernur Jawa Barat di Jakarta. Atas prestasi dalam pencapaian kinerja terbaik peringkat pertama Bidang Jasa Konstruksi.

5. (5) Penghargaan Kamar Dagang dan Industri Pusat, Jakarta 21 Desember 2008 [OPD Pengelola : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat]. Penghargaan diserahkan oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri, M.S. Hidayat kepada Gubernur Jawa Barat di JCC Jakarta. Atas prestasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menjalin kemitraan dengan Kadin.

Baca lebih lanjut

Generasi Rabbani di Bumi Gadjah Mada

Generasi Rabbani di Bumi Gadjah Mada

 

Peradaban adalah hasil akumulasi setiap generasi (Ust. Anis Matta)

            Momentum Sumpah Pemuda di gaungkan oleh 1300 Pemuda dari Seluruh Indonesia yang berkumpul untuk mengusung perubahan kejayaan Islam di negeri Pertiwi. Seraya memproklamirkan dengan lantang dan tegas “Sumpah Aktivis Dakwah Kampus Indonesia”

 “Kami Aktivis Dakwah Kampus Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air penuh kemakmuran. Kami Aktivis Dakwah Kampus Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa tanpa kebodohan. Kami Aktivis Dakwah Kampus Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa tanpa kekerasan.”

             Sarasehan Aktivis Dakwah Kampus yang hari ini kita rasakan adalah wujud dari mimpi para pendahulu kita yang dengan banyaknya pengawasan rezim otoriter ketika itu. Tapi kekokohan, keteguhan, ukhuwah yang kala itu dibentuk telah membuktikan bahwa hari ini dakwah bukan lagi hal yang ditakuti, bukan lagi hal yang menjadi momok terorisme dan bukan lagi hal yang menyebarkan paham aliran sesat. Sejatinya kita sebagai pengusung dakwah harus membuktikan itu, pemuda generasi yang akan mewarisi bangsa dan tanah air Indonesia.

        Bukan lagi saatnya untuk memerangi saudara-saudara kita yang tidak sepaham, bukan lagi kita mengolok-olok kerja dakwah saudara-saudara kita yang tidak sepaham. Melainkan dengan sinergisasi dakwah, saling mengisi kekosongan dakwah merupakan modal awal untuk kejayaan dakwah. Berbagai golongan yang ada bukanlah suatu halangan untuk berdakwah, ibarat puzzle, golongan itu mampu menempati posisi dan kerjanya masing-masing sehingga terusung lah dakwah yang hakiki yang melahirkan generasi Islam yang mampu menegakkan Islam. Sehingga tepat apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Amien Rais, M.A untuk memperhatikan kualitas diri “Everything will depend on your hand. If you think there is problems in your country, please organizing yourself, mobilizing your self.”

             Sebagai Aktifis Dakwah Kampus kita sebaiknya mampu merubah paradigma masyarakat, bahwa yang menjadi pendakwah itu bukanlah orang yang hanya berdiam diri di masjid, orang yang senantiasa memakai peci, berjenggot lebat, celana ngatung, baju koko dan lain sebagainya. Bahwa setiap orang itu telah diberikan kewajiban untuk berdakwah, kepada siapapun dan dimanapun. Posisi da’wah dalam Islam ibarat darah dalam tubuh manusia. Ia menyebabkan ummat hidup dan terus tumbuh dan berkembang. Da’wahlah yang mampu menggerakkan ummat untuk tetap terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Namun sebaliknya, disaat ummat meninggalkan da’wah, ummat tidak akan lagi terwarnai oleh fikrah dan kepribadian Islam. Ummat akan tercelup dan tergiring oleh tsaqafah/peradaban kufur yang tidak akan membawa kebaikan, melainkan kehancuran aturan masyarakat, nilai-nilai moral dan peradaban manusia itu sendiri.

“(Dan) Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong kepada sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS At-Taubah: 71)

 “Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemunkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik di antaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doa mereka tidak akan dikabulkan” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani).

             Saat ini kondisi umat sudah semakin modern, maka jangan kita buat dakwah itu menjadi sesuatu hal yang kuno. Bagaimana kita bisa memasuki dunia mereka dengan dakwah, sudah banyak media-media dakwah yang bisa digunakan. Salah satunya, jejaring sosial media yang hampir setiap individu memilikinya. Ketika kebanyakan orang menggunakan media tersebut untuk hal-hal keduniawian, maka manfaatkan lah dari kita sebagai media dakwah untuk bekal kita di akhirat.

         Sebagaimana kita ketahui, tantangan dakwah ke depan semakin berat maka kita hadapi dengan melahirkan generasi-generasi yang lebih kuat. Kualitas diri sangat diutamakan dibandingkan kuantitas yang lemah. Jadilah generasi-generasi yang di janjikan Allah seperti yang difirmankan Allah ta’ala dalam Q.S Al – Maidah : 54,

 Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Q.S. Al Maidah :54)

        Melalui LDK di masing-masing kampus yang tersebar di seluruh Indonesia, seharusnya mampu melahirkan generasi-generasi rabbani yang kokoh dalam tantangan dakwah. Lebih diluaskan lagi target dakwah, jangan hanya di kampus, keluarlah dari zona nyaman buat wilayah dakwah yang lebih besar. Buatlah sejarah dakwah yang dirindukan generasi setelah kita, buatlah sejarah dakwah yang membawa perubahan setiap jengkalnya. Selesaikanlah masalah-masalah internal LDK, karena saat ini seharusnya kita sudah banyak mengambil banyak pelajaran dari setiap generasi pendahulu kita dalam penyelesaian masalah-masalah dakwah. Sejatinya kerja-kkerja dakwah kita sudah ditunggu oleh orang-orang yang membutuhkan, oleh Bumi Pertiwi. Jangan buat Bumi Pertiwi selalu mengangis, melihat banyak kedzaliman di hampir setiap pelosok negeri. Jangan sampai terus bertanya, mana Aktivis Dakwah Islam yang katanya membawa perubahan? Yang katanya peduli terhadap umat? Sudah saatnya kita bergerak, keluar dari zona nyaman kita, keluar dari kediaman santai kita dan saatnya kita memasuki wilayah-wilayah dakwah yang membuktikan ke da’i an kita.

          Semoga momentum “Ukhuwah djang Tak Berudjung” di Sarasehan Nasional Aktivis Dakwah Kampus Indonesia mampu mengisi kembali semangat-semangat kita dalam berdakwah, semangat dalam meniti sebuah perubahan Kejayaan Islam. Setelahnya kembali bekerja di posisinya masing-masing, kembali menyalurkan semangat-semangatnya kepada saudara-saudari kita yang tidak diberikan kesempatan untuk hadir.

Bersama Khafilah FSLDK Bandung Raya

 

Bersama Khafilah LDK Se-Indonesia

Surat buat Abi

Assalamu’alaikum..

Bismillah..
Dear Abi..

Abi, bagaimana kabarnya disana?
Seneng ya bisa ketemu sama orang2 sholeh 😀
Oia Abi, aa sekrang sudah bisa jalan lagi, sudah bisa aktiftias lagi..

Abi, aa punya harpan banyak nih buat keluarga..
Aa ingin berangkatin umi haji (jangan ngiri ya  hehe)..Aamiin
Aa ingin buatin usaha buat umi biar setelah pensiun umi ada gawean, umi kan orangnya ngga mau diem..Aamiin..
Aa ingin sekolahin Hana (putri abi si bungsu) sampe selesai..Aamiin
Aa ingin dikaruniai jodoh wanita soleha, biar doanya ngga putus-putus Special pake telor buat abi dan umi..Aamiin
Aa ingin punya anak, 2 aja ah, ngga kaya abi kebanyakan ^^v, ikhwannya kasih nama Muhammad Utsman Darwindra (abi eksis dah) dan akhwatnya (biar istri aa aja yang kasih) Aamiin..
Aa ingin satria dan satriawati aa nanti menjadi hafidz dan hafidzah..biar selalu doain abi sama umi terus..Aamiin
Aa ingin punya yayasan gratis berpersen2 buat anak yatim, biar pada pinter2 plus ada program hafal Qur’an juga..kan doanya buat Abi sama umi juga :)..Aamiin..
Aa ingin buka usaha pabrik rumahan / UKM atau Bhs Indramayunya ‘Home Industry’ nanti yang kerja sodara2 aa yang pda putus sekolah..kan kata hadits ‘Seorang muslim harus bermanfaat untuk orang lain’..Aamiin
Sebenrnya banyak lagi abi, tapi itu sudah cukup untuk disampaikan ke abi biar abi bilang ke Allah, biar di Acc 🙂

Abi, salam dari umi dan putri2 yang cantik sama kaya umi, sekarang aa ngga ada saingan lagi, di rumah paling ganteng hehe ^^v, Hana sekarang sudah pinter bacanya plus ngajinya (aa paksa soalnya hehe), Hani sekarang sudah kerja di apotek (lumayan bisa ngasih THR ke umi kemarin, aa mah belum malah minta hehe).

Abi jaga kesehatan ya..disana mah enak ya, bisa bebas merokoknya, kalau dirumah kan Aa marahin hehe, rokonya pake daun dari surga ya abi, tapi jangan banyak2 ya, nanti aa ngga kebagian :).

Abi dirumah sana sendirian ya, nanti abi kami pasti bisa berkumpul kembali kelak..Aamiin..

Oia abi, idul fitri kemarin rasanya sepi ngga ada abi, biasanya kan keliling tuh sama abi. Trus makan opor buatan umi yang tiada duanya.
Tahu ngga abi, yang bikin ketupat dari daun kelapa kemarin, umi, aa hani sama hana, aa buat paling banyak, malah hani kalah sama bungsu hana hehe

Aa kemarin ke tempat peristirahatn abi, udah aa bersihin, udah aa siram sama dikasih bunga biar cantik 🙂

Ya udah abi ya, sekitu wae cek urang sundah mah #Ops abi kan ngga bisa bhs sunda hehe ^^v

Kangen sama abi, pengen cerita banyak sama abi..
Doain aa ya abi, target aa lulus November 2012..

Abi nitip salam buat Allah, Rasulallah dan orang2 soleh disana ya..

Nanti sambung lagi ya abi, udah malem nih, ngantuk, besok minggu mau ke kampus (sok sibuk hehe)

I Lope U Pull dah buat abi daru keluarga besar Darwindra.

Wassalamu’alaikum

Salam cinta dari Satria abi
Haris Dianto Darwindra
Jatinangor, 18 Syawal 1432 H/17 September 2011

Subhanallah Sesuatu

SUBHANALLAH SESUATU

Bismillahirrahmanirrohim

Alhamdulillah, Nash-shaltu was-salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alaihi wa sahbihinwa man walah. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu la nabiyya ba’dah. Wa ba’du.

Mungkin sebagian kita sudah familiar penggunaan kalimat ‘Subhanallah Sesuatu’ yang selalu kita temui baik dari ucapan langsung, percakapan dunia maya, atau ungkapan seseorang dalam sebuah status jejaring sosial. Namun perlu diperhatikan, etika kita untuk mengucapkan kalimat tersebut. Kalimat ‘Subhanallah’ adalah kalimat yang tercantum dalam Al – Qur’an dan bukan barang tentu Allah menurunkan kalimat tersebut untuk hal yang sia-sia.

          Kalimat ‘Subhanallah’ yang memiliki arti ‘Maha Suci Allah’ hendaknya digunakan untuk memuji keagungan Allah subhanahu ta’ala. Bukan untuk dipermainkan ‘asal ceplos’ saja. Seperti yang dituangkan dalam kisah Rasulullah Muhammad Sallahu ‘Alahi Wassalam ketika Isra Mi’raj, dalam surat Al-Isra di awali dengan kalimat Subhaanalladzii – Maha Suci Allah. Menurut saya kalimat pembuka ini memiliki makna yang luar biasa dan mendalam untuk memahami sesuatu hal. Saya menangkap suatu kesan bahwa Allah ingin memberikan penegasan kepada kita bahwa perjalanan Rasulullah saw ini bukanlah perjalanan biasa. Melainkan sebuah perjalanan luar biasa.

Di dalam Islam, kalimat ‘Subhanallah’ diajarkan untuk diucapkan ketika kita menemui suatu kejadian yang luar biasa atau menakjubkan. Ketika melihat ciptaan Allah yang Maha Dahsyat di alam semesta, misalnya, kita dianjurkan untuk mengucapkan ‘Subhanallah’. Kehebatan proses-proses pembakaran di matahari, kecepatan putar planet Bumi yang luar biasa, keindahan pantulan cahaya bulan purnama yang begitu memukau, dan lain sebagainya, bisa menyulut rasa terpesona kita. Dan kemudian terlontar ucapan ‘Subhanallah’.

Fenomena yang terjadi saat ini adalah sebagian tidak memahami kaidah penggunaan kalimat tersebut. Melainkan untuk mengikuti tren yang sedang terjadi saat ini. Saya tidak menyalahkan seseorang yang mengucapkan kalimat tersebut, justru sangat gembira karena siapapun orangnya, darimanapun latar belakangnya, dan sebagaimanapun ilmunya, dapat mengucapkan pengucapan untuk mengagungkan Allah subhanahu ta’ala. Semoga dengan sering mengucapkan kalimat ‘Subhanallah’ kita menjadi terbiasa untuk selalu mengaggungkan kebesaran Allah subhanahu ta’ala.

Begitu pun juga dengan kalimat ‘Alhamdulillah’, sebaiknya kita terapkan setiap saat selama kita masih belum terjaga dari tidur. Kita mungkin tidak menyadari akan nikmat Allah yang senantiasa diberikan kepada kita, bahkan “Jika seluruh tumbuhan yang ada di bumi dijadikan sebagai pena dan air lautan sebagai tintanya untuk menuliskan nikmat Allah SWT dan setelah habis ditambah lagi dengan yang seperti itu,niscaya tidak akan tercatat seluruh nikmat yang Allah berikan kepada manusia”.

Tidak etika kan apabila kalimat ‘Alhamdulillah’ diikutkan dengan pernyataan yang kurang baik. Misalnya ‘Alhamdulillah makanan itu ngga enak sekali atau yang lainnya. Padahal apabila kita melihat artinya yaitu ‘Segala Puji Bagi Allah’, apakah kita pantas menyatukan kalimat ‘Alhamdulillah’ diikuti dengan pernyataan yang kurang baik. Tidak kan! Maka dari itu saya mengajak pergunakanlah kalimat – kalimat Allah pada relnya pada jalurnya.

Semoga tulisan ini mengingatkan kembali akan makna dari kalimat-kalimat Allah subhanahu ta’ala tersebut. Afwan jiddan jika ada yang tidak baik dari penyampaian saya di atas. Alhaqqu mirrobik falatakunanna minal mumtariin – kebenaran itu daru Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu. Semoga Allah subhanahu ta’ala, senantiasa membimbing hati-hati kita ke jalan yang benar.

Dedikasi untuk Indonesia

Haris Dianto Darwindra

Jatinangor, 16 Syawal 1432 H/15 September 2011

“Tidak Makan, Kalau Belum Makan Nasi”

             “Tidak makan, kalau belum makan nasi.” Hampir setiap orang di Indonesia mengatakan hal yang serupa dengan kalimat tersebut. Kita tahu bahwa nasi merupakan makanan pokok di Indonesia, sehingga wajar saja apabila konsumsi beras di Indonesia merupakan tertinggi di dunia, bahkan melebihi batas rata-rata konsumsi dunia yang membatasi 60 kg/orang/tahun. Menurut Pertanian Siswono, Penduduk Indonesia mengkonsumsi beras rata-rata 139 kg/orang/tahun. Jumlah tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan negara-negara terdekat kita, yaitu Malaysia yang hanya mengkonsumi beras 80 kg/orang/tahun, Thailand 90 kg/orang/tahun dan Jepang 60 kg/orang/tahun. Belum lagi jumlah tersebut diakumulasikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 200 Juta Jiwa lebih.

            Padahal berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Juli 2011, mencatat nilai impor beras Indonesia pada tahun ini telah mencapai USD 829 juta atau sekitar Rp 7,04 triliun rupiah. Uang sebanyak ini digelontorkan pemerintah untuk mendatangkan sebanyak 1,57 juta ton beras dari Vietnam (892,9 ribu ton), Thailand (665,8 ribu ton), Cina (1.869 ton), India (1.146 ton), Pakistan (3,2 ribu ton), dan beberapa negara lain (3,2 ribu ton). Data ini dirilis BPS pada Selasa (06/09/2011). Pertanyannya, apakah suplai beras di Indonesia tidak cukup?

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi padi pada tahun 2011 mencapai 68,06 juta ton gabah kering giling (GKG)─Angka Ramalan II (ARAM II). Jika dikonversi ke beras, ini artinya, pada tahun ini, produksi beras nasional sebesar 38,2 juta ton. Dan jika memperhitungkan adanya loses (kehilangan) sebesar 15 persen, maka produksi beras mencapai 37 juta ton.

Dengan asumsi bahwa konsumsi beras sebesar 139 kg/kapita/tahun dan jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 237 juta orang, konsumsi beras nasional tahun ini berarti mencapai 34 juta ton−ini diperoleh dengan mengalikan konsumsi beras per kapita dan jumlah penduduk Indonesia saat ini. Dengan demikian, merujuk pada hasil hitung-hitungan tersebut, tahun ini Indonesia sebenarnya surplus beras sebesar 3-4 juta ton. Tetapi kenapa harus impor, padahal surplus? Ke mana larinya 3-4 juta ton beras itu?

            Belum selesai sampai disitu, beras yang diterima dimasyarakat saat ini, apakah kondisi dan mutunya baik? Lalu, kemanakah beras-beras petani yang dihasilkan dalam kondisi dan mutu yang baik? Ada permainan apa dengan beras kita ini? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin hanya pertanyaan sepintas saja, karena tadi, melihat kebiasaan masyarakat Indonesia harus mengkonsumsi nasi, maka dari itu jenis beras dalam kondisi dan mutu apapun dapat diterima oleh masyarakat, “yang penting hari ini bisa makan.”

            Melihat kondisi tersebut, apakah kita tidak miris dengan konsumsi beras di Indonesia yang semakin tinggi dengan semakin bertambahnya penduduk. Permasalahan selanjutnya adalah saat ini banyak investor-investor yang hanya mementingkan kepentingan perushaannya tanpa mementingkan lingkungannya, yaitu sudah banyak lahan-lahan pertanian yang dia alih fungsikan. Berarti semakin ciutlah itu lahan pertanian yang juga berdampak terhadap produksi beras kita, lantas darimana stok beras yang kita dapatkan selain dari impor. Sedangkan kualitas impor beras saat ini tidak begitu diperhatikan, asal murah, asal masyarakat bisa beli beras, asal masyarakat bisa makan.

            Kebiasaan mengkonsumsi beras di Indonesia, bagaikan mengkonsumsi obat tiga kali sehari. Padahal terlalu banyak makan nasi juga tidak sehat. Apalagi, kebanyakan dari kita saat mengkonsumsi nasi tidak diimbangi dengan gizi lain yang mencukupi. Seperti diketahui beras itu mengandung karbohidrat yang kelewat jahat jika tidak dikontrol. Bayangkan, dalam 100 g nasi, karbohidrat mendominasinya sampai 79 g. Selebihnya gula (0,12 g); serat pangan (1,3 g); lemak (0,66 g); protein (7,13 g); dan air (11,62 g). dan masih banyak lagi kandungan lainnya yang kecil-kecil. Makanya para penderita diabetes untuk mengurangi konsumsi nasi.

            Faktor iklim di Indonesia yang sudah mulai tidak menentu juga mengakibatkan produksi beras menurun, sedangkan tanaman padi membutuhkan asupan air yang cukup selama masa pertumbuhan.

            Sebagai generasi muda, khususnya yang bergerak dalam bidang pangan, sudah sepatutnya kita mengabdi untuk mecarikan solusi-solusi dari permasalahan yang ada seperti ini. Seperti yang disampaikan oleh salah seorang petani, “Pemuda sekarang mah males turun ke sawah, sukanya maen handphone terus book bookan bae.” Mungkin maksudnya facebook kali ya, maklum orang tua Heze. Tapi itu kenyataan hari ini, yang banyak di lakukan oleh kaum muda kita, mungkin kita belum merasakan apa yang dialami oleh orang tua kita.

            Mengusung program gubernur Jabar Ahmad Heryawan, bahwa kita setidaknya dapat mengkonsumi pangan selain daripada beras, misalnya singkong. Kandungan gizi didalamnya juga tidak kalah dengan yang dikandung beras, begitupun penanamannya tidak membutuhkan air yang banyak dan lahan yang dibtuhkan tidak harus luas apalagi kalau kita menyedeiakan lahan di dekat rumah khusus untuk menanam singkong. Jadi nanti pengemis ngga lagi bilang, “Pak sedekahnya, belum makan nasi hari ini.” Tetapi bilang “Pak sedekahnya, belum makan singkong hari ini.” Hehe

 

            Ada kisah dari seorang warga yang tinggal di desa dalam kota di salah satu kota di Jawa Barat. Seorang ibu yang tergolong ekonomi bawah, setiap hari mengkonsumsi singkong dengan alasan harganya yang murah dan ketika ditanya, “Kenapa bu makannya dengan singkong?”. “Ya harganya murah dan ngga perlu repot-repot masaknya, cukup makan singkong rebus dengan kuah kencur ditambah cabai dan air panas sudah enak dimakan.”.

            Isu saat ini mengenai singkong di Indonesia adalah Indonesia impor singkong dari luar, dari China. Kenapa sampai terjadi seperti ini? Padahal produksi singkong Indonesia berdasarkan data BPS 2011 mencapai 24,08 juta ton. Mungkin kaget kan mendengar Indonesia impor singkong (Awas spot jantung Heze). Tapi itulah faktanya, berdasarkan data BPS, sepanjang periode Januari hingga Juni 2011, Indonesia telah mengimpor sebanyak 4,73 ton singkong dengan nilai sebesar 21,9 ribu dolar AS. Singkong impor tersebut berasal dari Italia dan Cina. Dari Italia, Indonesia mengimpor 1,78 ton singkong atau senilai 20,64 ribu dolar AS, sedangkan dari Cina Indonesia mengimpor sebanyak 2,96 ton dengan nilai mencapai 1.273 dolar AS.

            Permasalahan dari kondisi tersebut adalah bahwa sebagian besar produksi singkong digunakan untuk industri, bukan untuk konsumsi rumah tangga. Faktor lain yang menyebabkan impor adalah kurangnya konektivitas petani dengan industri, sehingga para petani tidak tahu harus menyalurkan singkong kemana.

            Sekarang mungkin Indonesia sedang di uji oleh Allah ta’ala. Melihat iklim Indonesia yang tak menentu, membuat produksi beras menurun. Mungkin solusinya adalah bahwa Allah menganjurkan kita untuk menanam singkong, jagung atau umbi-umbian yang lain untuk alternatif konsumsi utama selain beras.

Jika kebiasaan makan nasi orang Indonesia dapat dirubah, maka akan berdampak besar pada penurunan konsumsi beras. Dengan demikian, kebutuhan beras dalam negeri dapat ditekan. Karena itu, program diversifikasi pangan harus digalakkan agar masyaratkat tidak terlalu bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama.

Mulai dari diri kita, keluarga kita, tetangga kita, se RT, terus se RW. Atau bikin perlombaan bagi RTnya yang kompak mengkonsumsi singkong sehari dalam seminggu diberikan penghargaan atau dibuatkan jalan yang bagus, dan lain-lain. Jadi penggalangan ide pemerintah tidak akan berjalan jika tidak diimbangi dengan kemauan dalam diri sendiri. Kita jangan melihat kondisi saat ini, kondisi perut kita saat ini, tetapi melihatnya ke depan (yaiyalah masa ke belakang nanti nabrak Hehe). Warisan untuk anak, cucu, cicit, kita nanti, biasakanlah mereka untuk mengkonsumsi selain beras sehari dalam seminggu untuk memutus rantai ketergantungan terhadap beras, sehingga tidak ada lagi pengemis yang bilang belum makan nasi (naon sih) :D.

Dedikasi untuk Indonesia

Jatinangor, 15 Syawal 1432 H/14 September 2011

Dukungan Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

Dukungan Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina? Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari. Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.

Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat. Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution. M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Baca lebih lanjut

Keanehan Yang Terjadi Saat Perang Di Gaza

Keanehan Yang Terjadi Saat Perang Di Gaza

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.

Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.

http://arabisraelireconciliation.files.wordpress.com/2009/02/gaza-foundation-for-arab-israeli-reconciliations.jpg

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

Wartawan kami, Thoriq, merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti. ***

Baca lebih lanjut